Jakarta, CNN Indonesia — Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani siap menghadapi tantangan Menpar Arief Yahya, mengenai target 15 juta wisman di 2017. Amenitas adalah wilayah Busniess dalam Pentahelix ABCGM (Academician, Business, Community, Government, Media) yang diwakili oleh PHRI. Ketika pemerintah bergerak cepat, pelaku bisnis juga harus bergerak lebih cepat.

Tantangan itulah yang dijawab Haryadi Sukamdani, President Director PT Hotel Sahid International Tbk. itu. Di acara Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT) 2016 Kemenpar, yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kemenpar, Rabu (21/12/2016), dia menyatakan sangat semangat untuk berkolaborasi. “Terima kasih Pak Menpar Arief Yahya sudah mempromosikan pariwisata menjadi mendunia. Branding awarenessWonderful Indonesia sudah sampai ada di mana-mana,” aku Haryadi.

”Justru di sini tantangan untuk kami, pelaku industri pariwisata dan kami sambut tantangan Kemenpar untuk merealisasikan target 15 juta di 2017. Tentu saja kami akan mengimplementasikan lebih rinci di lapangan, dengan segala skema yang sudah kami buat,” ujar Haryadi saat sesi jumpa pers.

Acara paling terdekat saat ini, ungkap Haryadi, pihaknya akan menyambut wisatawan dengan tagline Visit Indonesia di Low Season dari Januari hingga Maret 2018. Haryadi mengaku sudah berkoordinasi dengan semua pihak agar mampu merealisasikan target, dengan membuat paket-paket semenarik mungkin.

”Begitu juga di tahun 2017, kita akan keluarkan harga bagus dan terbaik untuk pariwisata Indonesia. Kami sudah berkoordinasi dengan semua pihak. Untuk tahun 2018, di bulan Januari dan Maret 2018 akan kami buka Visit Indonesia di Low Season. Karena pak Menteri sangat teliti dan terukur, kita buktikan di Low Season,” ujar Haryadi.

Pada tahun 2017, PHRI akan mengambil langkah-langkah efektif untuk meningkatkan dan melakukan asosiasi dengan Airline di seluruh dunia agar mau membuka penerbangan ke Indonesia. ”Apalagi Kemenpar mencanangkan Go Digital, tentu dengan cara ini kami juga harus berinovasi. Hal yang paling efektif adalah kita akan melakukan program dengan bank untuk mempersiapkan pembayaran wisata bagi wisman. Ini agar semua bisa berjalan lancar. Kita juga akan menyosialisasikan hal ini kepada anggota agar mampu menerjemahkan dengan baik target Kemenpar ini, kalau tidak menerjemahkan dengan baik maka target tidak akan terealisasi,” ujarnya.

Haryadi memaparkan, saat ini total kamar yang dimiliki adalah 507 ribu kamar. Kalau seandainya rata-rata kamar Rp 500 ribu, akan ada uang Rp 1.3 triliun masuk ke Indonesia. ” Maka angka ini sangat bagus untuk pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, di tahun 2017 dan 2018 nanti kita semua harus kompak mengisi acara-acara yang bagus. Dukungan kami akan tetap kami pegang teguh kepada semua usaha pariwisata yang ada. Dalam arti lain, kami menerima tantangan Kemenpar,”ujarnya.

Salah satu buktinya adalah, PHRI melakukan nota kesepahaman dengan PT AP II. Nota Kesepahaman tersebut tentang promosi pariwisata Indonesia dilakukan oleh Dirut PT Angkasa Pura II (Persero), Muhammad Awaluddin dengan Ketua Umum PHRl, Hariyadi B. Sukamdani disaksikan oleh Menpar Arief Yahya. Kata Haryadi, dalam nota kesepahaman tersebut akan dilakukan kerjasama promosi bersama (joint promotion) untuk mempromosikan pariwisata dan perhotelan Indonesia kepada pasar internasional dan domestik di area 13 bandar udara yang dikelola oleh PT AP II.

”Nota kesepahaman itu poinnya pada pertukaran data dan informasi, peningkatan frekuensi kunjungan wisman (inbound) ke Indonesia khususnya melalui bandara yang dikelola PT AP, serta partisipasi pada acara wisata dan perhotelan internasional maupun nasional atau domestik,” ungkapnya.

Haryadi mengatakan, PHRI akan sama-sama berjuang bersama kemenpar. Karena perhotelan dan restoran adalah amenitas. Mereka adalah penopang utama destinasi wisata. Dua unit usaha itu berada di bawah koordinasi pariwisata. Karena itu, maju tidaknya pariwisata akan berdampak langsung pada bisnis PHRI.

Haryadi juga kembali menyinggung terkait dengan produk pariwisata. Produk itu adalah destinasi. Destinasi itu berada di bawah Bupati, Walikota, dan Gubernur di daerah. Dengan otonomi, daerah mempunyai kewenangan untuk mengelola daerahnya. Termasuk destinasi pariwisata yang dimiliki oleh daerah tersebut. Celakanya, jika CEO di daerah tidak mengalokasikan sumber daya, biaya, dan perhatiannya di pariwisata, promosi destinasi di daerah-daerah tersebut akan terhambat.

”Apalagi kami semakin percaya diri karena pariwisata sudah ditetapkan sebagai satu dari lima prioritas pembangunan. Selain infrastruktur, produk kuliner, ketersediaan energi, dan lancarnya jalur maritim, branding, positioning,dan differentiation,pariwisata Indonesia akan semakin mempromosikan Indonesia di pentas dunia. Kami akan berjuang bersama Kemenpar,” katanya.

Putra pengusaha Prof. Dr. Sukamdani Sahid Gitosardjono itu juga akan memantau seluruh anggotanya untuk menyambut program Kemenpar di 2017. ”Program yang sudah pernah disebarluaskan Menpar Arief Yahya salah satunya adalah Visit Indonesia 2018. Terserah nanti namanya apa saja. Yang penting mereka datang ke Indonesia,” ujarnya.

Menurut Haryadi, program ini untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara di tahun pencapaian target tersebut.”Kami bantu target pemerintah, selaras dengan target kunjungan wisman 20 juta tahun 2019. Kalau kita bicara program besar untuk memajukan pariwisata itu harus dilakukan program bersama, kami akan meluncurkan Visit Indonesia tahun 2018. Intinya, program ini menjadi program bersama, bukan hanya PHRI saja,” jelas Hariyadi yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu.

Acara ini akan digelar serentak di sejumlah daerah pada tiga bulan pertama 2018. Pihak-pihak yang dilibatkan mulai dari maskapai penerbangan asing dalam negeri, hotel, restoran, hingga biro perjalanan. Mengenai pemilihan kota hingga saat ini masih dalam pembahasan. Menurutnya, kota-kota yang ingin terlibat harus memenuhi sejumlah kriteria yang ditetapkan seperti sarana dan prasarana penunjang hotel seperti hotel, restoran, destinasi yang menarik, aksebilitas, hingga faktor keamanan wisatawan. (syahb)

Sumber Berita: CNN INDONESIA