JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) Hariyadi Sukamdani menolak tegas penggunaan hotel digunakan untuk bisnis lainnya seperti pusat griya pijat.

Dia meminta kepada para pengusaha untuk menggunakan hotel sebagaimana fungsinya, yakni untuk tempat peristirahatan dan tempat penginapan.

“Kami tentunya enggak setuju ya hotel dipake bisnis yang aneh-aneh. Kami selalu bilang ke anggota (PHRI) jangan bikin bisnis yang aneh-aneh di luar bisnis hotel,” ujar dia saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin ( 11/12/2017).

Pengusaha yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini mengatakan, pihak lain  juga jangan langsung menuduh bahwa terdapat hotel digunakan untuk bisnis lain.

Menurut dia, perlu ada bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa ada hotel yang digunakan untuk bisnis lain. “Harusnya dibuktikan dulu, memang benar apa enggak. Sampai sekarang kan belum terbukti tuh kayak gimana buktinya, tetapi malah langsung dicabut izinnya enggak di-confirm,” kata dia.

Hal itu diungkapkan oleh Haryadi menanggapi langkah Pemprof DKI jakarta yang menutup Hotel Alexis pada 31 Oktober 2017. Hotel tersebut ditutup karena disinyalir digunakan untuk kegiatan pusat griya pijat.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ketua PHRI: Hotel Jangan Dijadikan Griya Pijat”, https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/11/135730226/ketua-phri-hotel-jangan-dijadikan-griya-pijat
Penulis : Achmad Fauzi